Tahun Baru Islam 1448 H, Prof Mukri Ajak Warga Binaan Lapas Introspeksi Diri
- account_circle Orba Battik
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Prof Mukri mengajak warga binaan Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung melakukan introspeksi diri pada momentum Tahun Baru Islam 1448 H. Ajakan tersebut disampaikan dalam Tablig Akbar yang diikuti sekitar 600 warga binaan pada Senin, 15 Juni 2026.
Tablig Akbar Jadi Sarana Muhasabah Warga Binaan
Lampung, Battikpost.site — Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung menggelar Tablig Akbar untuk memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan.
Sekitar 600 warga binaan mengikuti kegiatan keagamaan tersebut dengan penuh kekhusyukan. Panitia menghadirkan Ketua Umum MUI Provinsi Lampung, Prof. Dr. KH. Moh. Mukri, M.Ag., sebagai penceramah utama.
Dalam tausiyahnya, Prof Mukri mengajak peserta memanfaatkan momentum hijrah untuk memperbaiki diri. Ia menekankan pentingnya evaluasi diri dalam menjalani kehidupan.
Menurut Prof Mukri, setiap manusia memiliki hati nurani yang dapat menjadi penuntun dalam menentukan pilihan hidup.
“Ketika seseorang sedang sendirian, cobalah berdialog dengan diri sendiri. Mintalah nasihat kepada diri sendiri. Di dalam diri manusia terdapat apa yang oleh para ulama dan orang-orang bijak disebut sebagai guru sejati,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa hati nurani yang bersih mampu memberikan arah yang benar. Hati nurani juga membantu seseorang membedakan perbuatan baik dan buruk.
“Bisikan yang membuat hati menjadi tenang, adem, dan tenteram itulah bisikan hati nurani yang harus kita dengarkan,” kata Prof. Mukri.
Pentingnya Mengendalikan Diri dalam Kehidupan
Prof Mukri juga mengingatkan peserta mengenai pentingnya pengendalian diri. Ia menilai setiap orang memiliki keinginan untuk meraih kesenangan dalam hidup.
Namun, menurutnya, seseorang harus mengendalikan keinginan tersebut agar tidak melampaui batas. Pengendalian diri menjadi salah satu kunci menjalani kehidupan yang lebih baik.
Dalam kesempatan itu, ia mengutip pepatah Jawa sebagai pesan moral bagi seluruh peserta.
“Ngunu yo ngunu, ning ojo ngunu,” katanya.
Pepatah tersebut mengandung makna agar seseorang tetap menjaga batas dalam bertindak. Setiap keputusan harus tetap berada dalam koridor yang benar.
Prof Mukri kembali mengajak warga binaan menjadikan Tahun Baru Islam sebagai titik awal perubahan. Ia berharap seluruh peserta mampu melakukan muhasabah secara mendalam.
“Oleh karena itu, selama masih memiliki hati nurani, cobalah bertanya kepada diri sendiri. Renungkan setiap langkah yang akan diambil. Hati nurani yang jernih akan membantu kita membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik,” pesannya.
Ia juga mengajak peserta memulai tahun baru dengan niat yang baik dan tekad untuk berubah.
“Momentum tahun baru ini mari kita awali dengan niat yang tulus. Bismillah, kita hijrah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya,” tambahnya.
Pembinaan Keagamaan Jadi Program Prioritas Lapas
Kegiatan tersebut juga dihadiri Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung, Jumadi, A.Md., IP., S.H., M.H. Sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama dan insan media turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kalapas Jumadi menegaskan bahwa pembinaan keagamaan menjadi program penting di lingkungan lapas. Program tersebut bertujuan membentuk karakter warga binaan sebelum kembali ke masyarakat.
Menurut Jumadi, pihak lapas terus memperkuat pembinaan melalui kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat. Langkah tersebut memungkinkan program pembinaan berjalan secara berkelanjutan.
“Kami secara rutin melibatkan para alim ulama, kyai, ustadz, pondok pesantren, perguruan tinggi, serta berbagai instansi dalam rangka pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan maupun petugas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut membantu lapas mengatasi berbagai keterbatasan. Dukungan dari banyak pihak menjaga kualitas program pembinaan yang berlangsung selama ini.
Baca Juga Berita Populer
Jumadi menyebut program pembinaan memberikan dampak positif terhadap kehidupan warga binaan. Program tersebut juga membantu menciptakan kondisi lapas yang lebih kondusif.
Pihak lapas berhasil menekan pelanggaran tata tertib melalui pendekatan pembinaan yang konsisten. Selain itu, angka residivisme kasus narkotika juga menunjukkan hasil yang menggembirakan.
“Melalui pembinaan ini, tingkat pelanggaran di dalam lapas dapat ditekan. Untuk kasus narkotika, angka residivis di Lapas Narkotika Bandar Lampung berada di bawah 5 persen,” ungkapnya.
Bekal Warga Binaan Setelah Menjalani Masa Pembinaan
Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah tidak hanya menjadi agenda seremonial. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkuat nilai keagamaan di lingkungan lapas.
Melalui kegiatan ini, pihak lapas berharap warga binaan semakin memahami pentingnya hijrah dan muhasabah. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal saat mereka kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung terus mendorong pembinaan spiritual sebagai bagian dari proses pembentukan karakter. Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan bagi setiap warga binaan.
- Penulis: Orba Battik



