
Jalan Raya Pos: Jejak Legendaris Sebelum Era Tol Trans Jawa
Battikpost, – Jalan Tol Trans Jawa mungkin menjadi ikon jalan raya modern Indonesia saat ini. Namun, jauh sebelum era jalan tol, sebuah jalan legendaris telah menghubungkan Pulau Jawa dari barat ke timur: Jalan Raya Pos atau De Grote Postweg. Dibangun pada tahun 1809 atas perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, yang dikenal dengan julukan “Mas Galak”, jalan ini memiliki sejarah yang kaya dan penuh kontroversi.
Reformasi Daendels dan Lahirnya Jalan Raya Pos
Sejak tiba di Batavia (Jakarta) pada 5 Januari 1808, Daendels langsung melakukan reformasi besar-besaran. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke Buitenzorg (Bogor), memulai reformasi sistem pemerintahan, memberantas korupsi, membangun benteng, dan yang paling monumental: membangun Jalan Raya Pos. Jalan sepanjang kurang lebih seribu kilometer ini membentang dari Anyer di Banten hingga Panarukan di Jawa Timur. Proyek ini dirancang untuk memperkuat pertahanan di pesisir utara Jawa dari ancaman Inggris.
Dampak Ekonomi: Dari Transportasi ke Perdagangan
Jalan Raya Pos memberikan dampak yang jauh melampaui tujuan awalnya. Waktu tempuh antara Batavia dan Surabaya yang semula memakan waktu berminggu-minggu, kini terpangkas menjadi hanya lima hari. Sejarawan Denys Lombard bahkan menyebut jalan ini sebagai faktor kunci dalam menyatukan tanah Pasundan dan Jawa dalam satu kesatuan ekonomi.
Munculnya pedagang perantara, pasar yang ramai, dan toko-toko di sepanjang jalan menandai lahirnya geliat ekonomi baru. Sistem transportasi yang sebelumnya bergantung pada sungai mulai bergeser ke jalur darat. Jalan Raya Pos juga menjadi simbol modernisasi, meningkatkan mobilitas penduduk, membuka akses petani ke lahan baru, dan secara bertahap menggeser mentalitas feodal.
Baca Juga Terbaru
Kontroversi Kerja Paksa: Antara Sejarah dan Propaganda
Namun, sejarah Jalan Raya Pos tidak lepas dari kontroversi. Tuduhan penggunaan kerja paksa dan jatuhnya ribuan korban, termasuk ratusan di Megamendung, seringkali muncul. Namun sejarawan Asvi Warman Adam memberikan perspektif berbeda. Ia berpendapat bahwa sebagian besar informasi mengenai kerja paksa berasal dari tulisan lawan politik Daendels yang memiliki agenda terselubung.
Dokumen resmi Plakaatboek yang disusun J.A. van der Chijs bahkan menyebutkan adanya pembayaran upah bagi para pekerja jalan, bervariasi antara 1 hingga 10 ringgit tergantung jarak dan kesulitan rute. Meski begitu, praktik di lapangan mungkin tidak selalu sesuai dengan sistem resmi yang tercatat. Oleh karena itu, narasi kerja paksa perlu dikaji lebih hati-hati dan menyeluruh.
Warisan yang Melampaui Zaman
Jalan Raya Pos, meskipun lahir dari kepentingan kolonial, meninggalkan warisan abadi bagi Indonesia. Konsep “menyatukan” yang diusung jalan ini menginspirasi Soekarno yang kemudian memperluasnya menjadi slogan “Dari Sabang sampai Merauke”. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer juga mengakui pentingnya Jalan Raya Pos sebagai infrastruktur yang mengantarkan bangsa menuju modernitas, meskipun tidak menutup mata terhadap korban yang jatuh.
Simbol Modernisasi dan Pelajaran Sejarah
Jalan Raya Pos bukanlah sekadar peninggalan masa kolonial. Ia adalah representasi sejarah Indonesia yang kompleks: perpaduan antara kekuasaan, ambisi, kerja keras, dan pengorbanan. Jalan ini mengajarkan kita bahwa sejarah tidaklah hitam putih, dan pembangunan infrastruktur, meskipun diwarnai tekanan, dapat membuka jalan bagi perubahan besar.
Baca Juga Berita Populer
Penulis: Tim Battikpost
Sumber: VOI, Tempo, Denys Lombard, J.A. van der Chijs
Kunjungi kami di www.battikpost.site untuk berita sejarah lainnya!
