Peran Penting Kelamo dalam Adat Lampung
- account_circle orba battik
- calendar_month Rabu, 24 Sep 2025
- print Cetak

Kelamo memiliki peran penting dalam adat Lampung, khususnya dalam tradisi Pepadun. Tanpa kehadiran kelamo, prosesi adat tidak sah. Oleh karena itu, keberadaan kelamo selalu menjadi syarat mutlak dalam menjaga martabat, kehormatan, dan keberlanjutan adat Lampung.
Makna Kelamo dalam Kekerabatan Lampung
LAMPUNG, Battikpost.site — Kelamo bukan sekadar sebutan dalam keluarga. Dalam masyarakat adat Lampung, terutama pada komunitas Pepadun, kelamo berarti saudara laki-laki dari pihak ibu. Dalam bahasa umum, istilah ini sama dengan paman dari garis ibu. Sementara itu, anak dari kelamo disebut benulung.
Namun, relasi ini bukan hanya hubungan darah. Sebaliknya, kelamo menempati posisi khusus dalam struktur sosial adat Lampung. Dengan demikian, kelamo memikul tanggung jawab besar terhadap benulung dan keluarganya.
Selain itu, masyarakat adat Lampung menganut sistem kekerabatan patrilineal. Artinya, garis keturunan dihitung dari pihak ayah. Akan tetapi, di sinilah kelamo hadir sebagai penyeimbang. Oleh karena itu, keberadaan kelamo membuat sistem adat yang cenderung maskulin tetap seimbang.
Kelamo sebagai Penyeimbang Sosial
Adat Lampung tidak sekadar tradisi turun-temurun. Sebaliknya, adat menjadi identitas dan simbol kehormatan masyarakat. Dalam prosesi adat, khususnya adat Pepadun, kehadiran kelamo tidak bisa ditiadakan.
Selain itu, kelamo menjadi subjek penting dalam setiap acara adat. Dari sinilah terlihat betapa sentralnya posisi kelamo. Oleh karena itu, tanpa kelamo, adat berjalan pincang. Pada akhirnya, kelamo berfungsi sebagai penjaga keseimbangan dan pengikat antara dua sisi keluarga.
Makna Kelamo Penetek Galah
Dalam bahasa Abung, terdapat istilah kelamo penetek galah. Istilah ini berarti kelamo kandung, yakni saudara laki-laki kandung dari ibu.
Secara bahasa, penjelasannya ialah:
- Kelamo berarti saudara laki-laki ibu,
- Penetek berarti pemotong,
- Galah berarti leher.
Dengan demikian, kelamo penetek galah bermakna simbolik sebagai “kelamo yang berhak memotong leher kita”. Makna tersebut tentu tidak merujuk secara harfiah. Sebaliknya, istilah itu menggambarkan besarnya kuasa dan tanggung jawab kelamo.
Selain itu, kelamo memiliki hak moral dan simbolik untuk mengarahkan, menegur, bahkan menghukum benulung jika perlu. Misalnya, ketika seorang benulung perempuan berbuat aib, maka kelamo menjadi orang pertama yang merasa malu sekaligus bertanggung jawab.
Oleh karena itu, masyarakat adat Lampung memandang kelamo penetek galah sebagai figur pengawas, pembimbing, sekaligus pelindung kehormatan keluarga.
Kelamo Tanjar sebagai Pengganti
Tidak semua orang memiliki kelamo kandung. Namun, adat Lampung tetap menegaskan bahwa kelamo harus ada. Oleh karena itu, muncul istilah kelamo tanjar.
Kelamo tanjar berarti saudara laki-laki dari pihak ibu, meski bukan kandung. Misalnya, sepupu laki-laki dari pihak ayahnya ibu. Selain itu, seorang laki-laki bisa menjadi kelamo bila diangkat sebagai anak oleh keluarga ibu.
Kemudian, sistem semenda juga memungkinkan seseorang menjadi kelamo. Dalam hal ini, mertua dapat mengangkat menantu laki-lakinya sebagai anak sendiri. Selanjutnya, ia berperan sebagai kelamo dalam prosesi adat.
Dengan demikian, siapapun yang diakui keluarga ibu dapat berfungsi sebagai kelamo. Oleh karena itu, adat menegaskan bahwa keberadaan kelamo mutlak. Tanpa kelamo, prosesi adat tidak pernah sempurna.
Peran Kelamo dalam Prosesi Adat
Masyarakat Lampung, terutama komunitas Pepadun, selalu menempatkan kelamo dalam berbagai prosesi adat. Salah satunya ialah prosesi anjau kelamo. Prosesi ini merujuk pada kehadiran rombongan keluarga pihak ibu saat hajatan, seperti pernikahan atau sunatan (bekatan seghak asah).
Selain itu, dalam pernikahan terdapat prosesi penting bernama nginai. Pada momen ini, benulung laki-laki yang menikah menerima inai, gelar, atau panggilan adat. Namun, prosesi ini hanya sah bila kelamo hadir. Tanpa kelamo, nginai tidak bisa terlaksana.
Baca Juga Terbaru
Akibatnya, jika nginai tidak dilakukan, maka pernikahan dianggap belum lengkap menurut adat. Oleh karena itu, kehadiran kelamo menjadi kunci keabsahan prosesi.
Baca Juga Berita Populer
Selanjutnya, kelamo juga berperan dalam berbagai momen adat lain. Dengan demikian, kelamo bukan hanya simbol keluarga. Sebaliknya, kelamo menjadi penjaga marwah, pelindung martabat, dan penghubung kesinambungan adat Lampung.
Kelamo sebagai Penjaga Marwah dan Martabat
Kelamo tidak hanya hadir dalam acara seremonial. Lebih jauh, kelamo berfungsi menjaga martabat keluarga besar. Oleh karena itu, masyarakat adat Lampung menilai kelamo sebagai figur moral.
Selain itu, kelamo selalu berdiri di garis depan saat terjadi persoalan keluarga. Dengan demikian, kelamo menanggung malu, sekaligus memikul tanggung jawab sosial.
Pada akhirnya, kelamo bukan hanya sekadar paman dari pihak ibu. Sebaliknya, kelamo menjadi figur yang mengikat, menyeimbangkan, serta menguatkan jalannya adat. Oleh karena itu, peran kelamo bersifat mutlak dalam setiap prosesi adat Lampung.
Dengan semua peran tersebut, masyarakat Lampung selalu memandang kelamo sebagai pilar adat. Selain itu, kelamo menjaga keseimbangan sosial, mengawasi benulung, serta memastikan kelanjutan tradisi.
Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa tanpa kelamo, prosesi adat Lampung akan kehilangan ruhnya. Oleh karena itu, kelamo tetap menjadi syarat utama dalam menjaga martabat dan kesinambungan adat.
ORBA (ORang Bumi Aji).
Kec. Anak Tuha, Lampung Tengah.
- Penulis: orba battik


