Rusli Bintang Akan Lantik Rektor Versi Yayasan di Hotel Radisson
- account_circle orba battik
- calendar_month Senin, 7 Apr 2025
- print Cetak

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 42;
Battikpost, Bandar Lampung – Ketegangan internal di Universitas Malahayati kembali memuncak. Rusli Bintang, pembina Yayasan Alih Teknologi Bandar Lampung, dikabarkan akan melantik rektor versi yayasan di luar lingkungan kampus, tepatnya di Hotel Radisson, Bandar Lampung.
Langkah ini muncul setelah upaya pelantikan di kampus gagal. Rombongan yang diduga sebagai tim Rusli Bintang tidak berhasil memasuki area Universitas Malahayati pada Senin pagi. Pihak keamanan kampus menolak kedatangan mereka karena membawa sejumlah orang berbaju satpam yang tidak dikenali oleh satuan pengamanan internal.

Baca Juga Terbaru
Insiden tersebut menciptakan ketegangan di kalangan civitas akademika. Banyak pihak mempertanyakan motif di balik pemilihan lokasi pelantikan di luar kampus, terlebih saat status rektor masih menjadi perdebatan internal antara dua kubu yayasan.
Seorang akademisi Universitas Malahayati, yang meminta namanya tidak disebutkan, menyayangkan langkah Rusli Bintang. Ia menilai pelantikan rektor seharusnya berlangsung secara terbuka dan legal di lingkungan kampus, bukan di tempat umum seperti hotel.
“Ini menunjukkan bahwa Pak Rusli tidak ingin menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Padahal, itu jauh lebih bijaksana dan bermartabat. Kesannya seperti menghindar dari dialog dengan keluarga sendiri, terutama dengan Bu Rosnati yang masih sah sebagai pembina yayasan,” ujar akademisi tersebut.
Ia menambahkan, jika konflik internal ini tidak segera dimediasi secara adil oleh Kementerian Pendidikan dan aparat penegak hukum, potensi konflik horizontal di lingkungan kampus akan semakin besar. Hal ini dapat merusak reputasi Universitas Malahayati sebagai institusi pendidikan yang telah lama berdiri.
“Kampus adalah ruang intelektual. Bukan tempat perebutan kekuasaan. Semua masalah harus diselesaikan melalui dialog terbuka, bukan dengan simbol kekuatan atau acara seremonial di luar nalar akademik,” tegasnya.

Baca Juga Berita Populer
Civitas akademika Universitas Malahayati mendesak agar Kementerian Pendidikan dan aparat hukum segera turun tangan untuk menertibkan konflik yang berlarut-larut ini. Mereka menilai pelantikan di luar kampus mencerminkan ketidakmampuan menyelesaikan konflik secara legal maupun moral.
Pelantikan rektor seharusnya menjadi momen akademik yang sakral dan terbuka. Ketika proses tersebut justru dilakukan di luar kampus karena konflik internal, publik patut mempertanyakan integritas dan legalitasnya. Universitas Malahayati kini berada di persimpangan, dan hanya penyelesaian yang adil dan transparan yang mampu mengembalikan kepercayaan publik. (Orba).
- Penulis: orba battik


