Rindu Arini: Kisah Haru yang Menjaga Warisan Bahasa dan Budaya Lampung
- account_circle orba battik
- calendar_month Sabtu, 15 Feb 2025
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Battik Media, Lampung, – Sebuah film inspiratif berjudul Rindu Arini siap menyapa penonton dalam waktu dekat. Disutradarai oleh Rizqon Agustia Fahsa, film ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi gerakan pelestarian bahasa dan budaya Lampung. Dengan latar belakang kehidupan masyarakat Lampung yang penuh kehangatan, Rindu Arini menghadirkan kisah emosional yang akan menyentuh hati banyak orang.
Film ini mengisahkan perjalanan Arini (10 tahun), seorang gadis kecil yang merindukan kedua orang tuanya yang telah lama merantau ke Jakarta. Demi mewujudkan impiannya bertemu mereka, Arini berusaha mengumpulkan uang dengan membantu Abah Musa (60 tahun), seorang penjual soto keliling di kampungnya. Kisahnya penuh perjuangan, semangat gotong royong, dan nilai-nilai kehidupan yang sarat makna.
Menurut sang sutradara, film ini adalah bentuk kepedulian terhadap menurunnya jumlah penutur bahasa daerah akibat globalisasi dan modernisasi. Dengan lebih dari separuh dialog menggunakan bahasa Lampung, Rindu Arini ingin membangkitkan rasa bangga terhadap bahasa ibu.
“Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas. Ketika bahasa mati, kita kehilangan lebih dari sekadar kata-kata; kita kehilangan sejarah, kebijaksanaan, dan cara pandang hidup yang telah diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Rizqon Agustia Fahsa.
Film ini dibintangi oleh Humaidi Abas sebagai Abah Musa dan Adzkia Ayuandira sebagai Arini, dengan akting mendalam yang dijamin akan menguras emosi. Sejumlah aktor lain seperti Deddy Sulaimawan, Parles, Gilang Robbani, dan Ulil Amri MB juga turut berkontribusi dalam produksi film ini.
Dengan durasi 120 menit, Rindu Arini tidak hanya menampilkan keindahan bahasa Lampung tetapi juga memperlihatkan visual autentik yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung.
“Kami bekerja dengan penuh semangat untuk menghadirkan visual yang autentik dan menggambarkan keindahan kehidupan di Lampung. Harapan saya, film ini bisa menjadi lebih dari sekadar tontonan, tetapi juga bagian dari gerakan pelestarian budaya,” tambah Rizqon.
Film ini telah mendapatkan banyak dukungan dari berbagai komunitas budaya dan pemerhati bahasa daerah. Dengan kisah yang menyentuh serta pesan yang mendalam, Rindu Arini menjadi tontonan yang wajib disaksikan oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Baca Juga Terbaru
Baca Juga Berita Populer
- Penulis: orba battik
