
Jakarta BattikPost Site – Infeksi berulang demam berdarah dengue (DBD) perlu diwaspadai masyarakat karena berpotensi menimbulkan gejala lebih berat hingga berujung kematian. Risiko terbesar terjadi pada anak-anak serta pasien dengan penyakit penyerta.
Dokter spesialis anak RS Borromeus, dr. Tony Ijong Dachlan, menjelaskan bahwa virus dengue memiliki empat serotipe. Artinya, seseorang bisa terinfeksi lebih dari sekali, dan infeksi berulang biasanya lebih berat.
“Sekitar 45 persen kematian akibat dengue terjadi pada usia 5–14 tahun. Bahkan, infeksi tanpa gejala pada orang dewasa tetap bisa menularkan ke anggota keluarga lain,” kata Tony, Senin (25/8/2025).
Senada, dokter spesialis penyakit dalam RS Borromeus, dr. Stephanie Yuliana Usman, menekankan hingga kini belum ada obat khusus untuk DBD. Terapi medis hanya bertujuan meredakan gejala, bukan membunuh virus.
“Pencegahan sangat penting, terutama pada pasien dengan penyakit penyerta seperti obesitas, ginjal, diabetes, atau hipertensi yang lebih rentan mengalami kondisi parah,” ujarnya.
Kasus DBD Masih Tinggi di Indonesia
Data Kementerian Kesehatan mencatat hingga minggu ke-25 tahun 2025, Jawa Barat menjadi provinsi dengan kasus DBD tertinggi nasional, yakni 17.281 kasus dengan 61 kematian.
Direktur Medis RS Borromeus, dr. Marvin Marino, menegaskan pihaknya terus memperkuat layanan promotif dan preventif.
“Kami berkomitmen mendampingi masyarakat bukan hanya saat sakit, tetapi juga melindungi sebelum sakit, terutama menghadapi ancaman penyakit menular seperti DBD,” tegas Marvin.
Cara Efektif Mencegah DBD
Pencegahan DBD dapat dilakukan melalui:
- Gerakan 3M Plus (menguras, menutup, mendaur ulang, ditambah langkah tambahan seperti penggunaan kelambu dan obat nyamuk).
- Menjaga kebersihan lingkungan.
- Mempertimbangkan vaksinasi dengue sebagai perlindungan tambahan.(Karim)
