News
Shadow

Soekarno & Sutan Syahrir: Kawan Seperjuangan yang Berpisah Jalan

Battikpost.site —
Mereka pernah duduk berdampingan. Tertawa lepas tanpa beban, seperti dua sahabat lama yang saling paham. Soekarno, dengan gaya bicara yang berapi-api, gestur tangan yang tegas. Syahrir, tenang, mendengarkan sambil tersenyum tipis—senyum khasnya yang seperti menyimpan banyak cerita.

Tapi siapa sangka, di balik keakraban itu, pelan-pelan tumbuh jurang pemikiran yang dalam. Jurang yang kelak memisahkan dua nama besar yang dulu sama-sama bermimpi tentang Indonesia merdeka.

Dua Cinta, Satu Tanah Air

Soekarno dan Sutan Syahrir. Dua otak brilian. Dua hati yang sama-sama mencintai Indonesia, tapi dengan cara yang berbeda.

Bung Karno adalah sang revolusioner. Ia percaya pada kekuatan massa, semangat rakyat, dan ideologi besar seperti marhaenisme. Baginya, Indonesia harus bangkit dengan gegap gempita, penuh semangat nasionalisme yang membara.

Syahrir, sebaliknya, adalah sosok yang lebih dingin dan diplomatis. Ia percaya pada akal sehat, pada demokrasi, dan pada proses politik yang terukur. Ia bukan tipe orator, tapi pemikir jernih yang tahu ke mana arah bangsa harus dibawa.

Dari Teman Jadi Lawan Pandang

Awalnya, mereka berjalan beriringan. Soekarno jadi Presiden, Syahrir sempat jadi Perdana Menteri. Tapi seiring berjalannya waktu, perbedaan visi makin terasa.

Syahrir mulai tak sejalan dengan cara-cara Soekarno yang dianggap terlalu sentralistik dan revolusioner. Sementara Soekarno mungkin melihat Syahrir sebagai penghambat langkah besar revolusi.

Hingga akhirnya, hubungan mereka benar-benar renggang. Syahrir bahkan ditahan dan diasingkan oleh pemerintahan sahabatnya sendiri.

Ironis. Dua orang yang dulu saling percaya dan saling menguatkan, justru dipisahkan oleh idealisme politik yang keras kepala.

Kalau Sudah Politik, Apakah Persahabatan Masih Bisa Bertahan?

Pertanyaannya jadi menggelitik: apakah politik dan persahabatan bisa jalan bareng? Atau memang, ketika idealisme sudah bicara, hubungan personal harus rela jadi korban?

Sejarah mungkin bilang: susah. Tapi bukan berarti mustahil. Yang penting: ruang dialog tetap dibuka. Karena beda pandangan itu wajar. Yang bahaya justru kalau kita mulai merasa paling benar dan lupa kalau dulu pernah berjuang bersama.

Akhirnya, Kita Belajar dari Mereka

Kisah Soekarno dan Syahrir bukan sekadar sejarah. Ini cermin. Bahwa membangun bangsa nggak harus selalu satu suara. Tapi harus satu tujuan.

Dan meski mereka akhirnya berpisah jalan, satu hal yang nggak pernah berubah: mereka sama-sama mencintai Indonesia. Sepenuh hati.

 

Sumber Referensi:

Legge, J.D. Sukarno: A Political Biography. Archipelago Press, 2003.

Reid, Anthony. The Indonesian National Revolution 1945–1950. Longman, 1974.

Benda, Harry J. The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam under the Japanese Occupation, 1942–1945. KITLV, 1983.

Rosidi, Ajip. Sutan Syahrir: Pemikiran dan Perjuangannya. Pustaka Jaya, 1990.

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Perpustakaan Nasional: dokumen dan surat korespondensi pribadi Soekarno–Syahrir (1945–1952).